PERAN DUKUNGAN SOSIAL DAN POLA ASUH DALAM PEMBENTUKAN KEMANDIRIAN AKADEMIK REMAJA SEBUAH PENDEKATAN FENOMENOLOGIS DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN
Keywords:
dukungan sosial, pola asuh, kemandirian akademikAbstract
Kemandirian akademik merupakan salah satu aspek perkembangan yang krusial pada masa remaja, terutama dalam konteks pendidikan formal yang semakin menuntut kemampuan regulasi diri, tanggung jawab, serta pengambilan keputusan yang otonom. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam makna pengalaman remaja terkait peran dukungan sosial dan pola asuh orang tua dalam pembentukan kemandirian akademik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis untuk menggali pengalaman subjektif partisipan. Sebanyak delapan remaja berusia 15–18 tahun yang sedang menempuh pendidikan di tingkat sekolah menengah atas dilibatkan sebagai partisipan melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis tematik fenomenologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial dalam bentuk dukungan emosional, instrumental, informasional, dan penghargaan memiliki kontribusi signifikan terhadap berkembangnya regulasi diri, rasa kompeten, dan tanggung jawab akademik. Selain itu, pola asuh demokratis yang ditandai dengan komunikasi terbuka, pemberian batasan yang jelas, dan penghargaan terhadap pendapat anak terbukti mendorong perkembangan kemandirian akademik yang lebih optimal. Sebaliknya, pola asuh otoriter dan permisif menunjukkan dinamika yang berbeda dalam memengaruhi otonomi belajar remaja. Remaja yang merasakan keseimbangan antara dukungan dan kontrol adaptif cenderung memiliki motivasi intrinsik yang lebih kuat serta kemampuan refleksi akademik yang lebih matang. Temuan ini memperkaya kajian psikologi pendidikan dan perkembangan dengan memberikan pemahaman kontekstual mengenai dinamika keluarga dalam membentuk kemandirian akademik remaja. Penelitian ini juga memberikan implikasi praktis bagi orang tua, pendidik, dan konselor sekolah dalam mengembangkan intervensi berbasis keluarga untuk mendukung perkembangan otonomi belajar remaja secara berkelanjutan.















